Kontes Review gugling.com

May 21st, 2009

Kemiskinan dan kebodohan, Bukanlah Alasan

Saya sendiri sadar bahwa dengan mengangkat tulisan ini akan menimbulkan banyak persepsi yang negatif, namun sejujurnya saya mengangkat tulisan ini untuk membuka mata agar bisa memandang segala sesuatunya dengan seimbang sehingga kita tidak dimanfaatkan oleh orang-orang “pintar”.  Saat ini saya sangat prihatin melihat situasi negara kita yang semakin hari semakin tidak menentu. Kesenjangan ekonomi semakin terbentang jauh antara orang kaya dan orang miskin. Satu hal yang mungkin kita setujui bahwa jumlah orang kaya di negeri ini sangat sedikit jika dibanding dengan orang yang sederhana dan orang yang miskin. Demikian juga dengan masalah pintar dan bodoh, hampir setali tiga uang rasanya. Tak sedikit orang-orang kaya memanfaatkan dan menekan orang-orang miskin. Tak jarang orang-orang pintar mengintimidasi dan menginjak-injak orang yang lebih bodoh dari mereka. Miris memang, kenyataan tersebut harus terjadi. Namun, pernahkah berfikir… jika selama ini yang tertekan bukanlah orang-orang miskin dan bodoh, melainkan orang-orang yang sederhana ?

Tidak heran lagi jika saya membahas tentang perilaku orang-orang kalangan atas yang senang menginjak-nginjak orang lemah…. tidak heran lagi jika saya membahas tentang perilaku orang-orang pintar yang suka memanfaatkan orang lain. Namun mungkin akan sangat berbeda jika saya membahas tentang kesombongan orang-orang yang miskin ????

Di sini saya bukanlah bermaksud menghina saudara-saudara kita yang mengaku diri miskin. Yup mengaku diri miskin agar bisa semena-mena juga. Dengan mengatasnamakan kemiskinan, pinggiran jalan yang seharusnya jadi tempat pejalan kaki dipenuhi oleh pedagang kaki lima. Dengan mengatasnamakan kemiskinan, di pelosok jalan raya dipenuhi oleh para pengamen dan peminta-minta, yang tidak sedikit dari mereka adalah orang-orang malas yang menggunakan kedok pengemis dan orang cacat.

Apakah para pedagang kaki lima tidak berpikir bahwa trotoar jalan itu dibuat sebagai tempat para pejalan kaki untuk meminimalisasi kemacetan dan kecelakaan ? Apakah para pedagang asongan, pengamen dan pengemis tidak memikirkan bahwa akibat mereka kemacetan jalan raya semakin parah ? Tidak…. semua beralasan atas nama kemiskinan.

Begitu juga dengan para tukang becak dan supir angkot yang sebagian besar justru sering membahayakan orang lain akibat sifat ugal-ugalan dan kejar setoran. Alasannya klise…. kurangnya pengetahuan dan kecilnya penghasilan. Apakah penghasilan puluhan ribu sehari sebanding dengan nyawa manusia yang terrenggut oleh kecerobohan dan keegoisan mereka?

Penggusuran pun sering dilawan dengan mati-matian. Padahal mereka sendiri sadar bahwa lahan yang mereka tempati bukanlah hak mereka. Uang ganti rugi pun diperdebatkkan, padahal kalo dihitung-hitung berapa besar biaya yang seharusnya mereka keluarkan jika menggunakan lahan yang bukan miliknya.

Silahkan panggil saya tidak punya hati nurani, setelah membaca tulisan ini. Tapi apa yang ingin saya katakan disini adalah… jangan mengatas namakan kemiskinan dan kebodohan untuk bisa merugikan orang lain, untuk bisa mengambil alih hak yang bukan haknya.

Kemiskinan dan kebodohan bukanlah alasan untuk bisa berbuat seenaknya…. para pedagang kakilima, pengamen, pengemis dan siapapun itu yang menggunakan alasan kemiskinan untuk berbuat seenaknya, seharusnya bisa hidup dengan layak jika mereka mau kembali ke kampung halaman dan bekerja sesuai dengan kemampuannya, jadi petani kek, nelayan kek…. Tapi tentunya mereka ga mau karena pingin hidup enak tanpa harus bekerja keras… Lalu pantaskah mereka dikasihani ?

Semua kembali pada diri kita masing-masing.. tapi bagi saya yang telah merasakan perihnya hidup menjadi korban para orang-orang seperti itu… sama sekali tak akan mau… meskipun saya dicap tak berperasaan, sombong dan segala macam…. Dari pada mengasihani orang-orang yang sering menjadikan kemiskinan sebagai tameng… mending langsung aja membantu mereka yang mau berusaha, baik itu sebagai nelayan, tukang cuci, buruh dan sebagainya…  Tapi hal ini ga berlaku bagi anda yang memang ingin memanfaatkan mereka untuk menjual “Profil” anda sebagai manusia sosial padahal ujung-ujungnya hanya untuk kepentingan anda sendiri.

  • Share/Save/Bookmark

53 Responses to “Kemiskinan dan kebodohan, Bukanlah Alasan”

  1. Kalau gitu, mending bantu saya aja Bang… Saya orang miskin yang mau berusaha keras. :D

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    hush.. jgn ngaku2 miskin.. ntar miskin beneran hihihi

    [Reply]

    Blogpreneur internet marketing strategist Reply:

    orang miskin dan kerja keras penting, tapi ngak mau kan berakhir seperti orang2 dipasar yang kerja keras aja.. caranya kerja cerdas juga diutamakan dengan semua porsi yang sejajar.. :)

    [Reply]

  2. Kasihani Bang .. saya Orang Miskin, Miskin Harta miskin Tahta .. dan sangat Fakir oleh wanita, sumbangannya dong. He he he Mantab Gan Lanjuut :)

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    wkwkw ga kebalik tuch? hiihi

    [Reply]

  3. bener juga bang,Kalo yang kaya tw jika uang yang di perolehnya bukan sepenuhnya milik dia dan mau menginfakannya, dan yang miskin juga tidak bermalas – malasan dengan mengadahkan tangan saja, mungkin negara ini sedikit lebih maju. Tapi cukup disayang kan semuanya jadi gelap hanya karena uang, cntohnya aja pejabat yang gajinya sudah jelas puluhan juta masih aja korupsi, coba klo uang itu gk di korupsi dan di pergunakan untuk membatu orang kecil untuk membuka usaha sendri itu lebih baik. Dengan memberdayakan koperasi simpan pijam untuk usaha menengah kebawah

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    tapi jangan salah, sekarang ini justru banyak koperasi yang justru kenyataannya adalah rentenir.. ini banyak terjadi di pelosok2… aparat cuma tutup mata ajach tuch

    [Reply]

  4. itulah salah satu mentalitas yg tumbuh pesat di indonesia.. **ngelus dada**

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    **ikutan ngelus ach hihihi

    [Reply]

  5. wah agak berat nih masalahnya :)

    ya emang sih semua tergantung dari manusianya, ada yang kaya tapi baik, ada yang kaya tapi memanfaatkan si miskin, demikian juga sebaliknya.
    moral masalah utamanya, tidak jauh kaitannya dengan kualitas pendidikan dan agama :)

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    he he he asal hati2 aja banyak yang berkedok agama padahal moralnya ancur he he he

    [Reply]

  6. wah, yg ini dalem banget tulisannya.
    gila, kelas tinggi nih topiknya.
    :) )

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    wkwkwkw kelas tinggi apaan..
    master ecko bisaan ajach..

    [Reply]

  7. sejak kuliah, saya emang sependapat sama bang Zal. Gara-gara paham ini, saya sempat disinisi mahasiswa lain karena bahas hal ini waktu kuliah Kewarganergaan hahaha :p

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    walah… ntar banyak yang mikir kita bareng kuliahnya lho kang…. :P ga apa apa disinisin ama org lain asal kita benar iya ga kang?

    [Reply]

    ipung Reply:

    iya sih.. emang gapapa dan uda terbiasa disinisin sama orang karena ga berpikir kolot.. lagian karena dasar berpikirnya bener, sang Dosen langsung terkesima dan ngejamin aku bakal dapat A asal ikut ujian hehehehe… :p

    [Reply]

  8. saya setuju….

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    he he he makasi …

    [Reply]

  9. Saya setuju Kemiskinan dan kebodohan, Bukanlah Alasan, tapi saya tidak setuju kalau Orang miskin dan Orang bodohan di perangi, meraka juga manusia dan sebagai warga negara yang harus di lindungi dan di pelihara oleh negara… hee hee hee
    Bang Zalu … pada posting kemarin saya sudah minta untuk diberi link … dan link blog ini sudah saya pasang … akan tetapi Bang Zalu kok belum memberi back link … apakah ada syarat khusus yang harus saya penuhi, agar mendapatkan back link … terima kasih. Mohon di balas !

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    hehehe maap lupa pasang linknya..
    udah dipasang koq..

    [Reply]

    Kulitintacetak Reply:

    Terima kasih Bang Zalu …

    [Reply]

  10. keep posting bang……….:)

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    he he thanks

    [Reply]

  11. Sebenernya yang jadi masalah bukan miskin atau bodohnya,,,
    tp malas dan gak ada perasaan bersalah karena mengambil hak orang lain!

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    ho oh tapi tetep alasannya karena miskin padahal banyak yang alasan sebenarnya adalah karena malas dan mau enaknya sajach

    [Reply]

  12. pertanyaan saya begini bang, bagaimana dengan kemiskinan struktural. Menurut saya, negara ini juga mempunyai peran yang besar kenapa hal tersebut bisa terjadi. Banyak ketidakadilan yang dilakukan atas nama negara, atas nama pembangunan. Itu yang menurut saya juga harus dilawan. Giman menurut abang?

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    aku setuju soal itu.. tapi rasanya sudah banyak yang membahas itu… justru karena mata kita “terpaku” akan masalah itu jadinya masalah yang “terabaikan” ini justru juga semakin merajalela…. makanya biar seimbang ya saya membahas soal tingkat bawah ini.. :)

    [Reply]

  13. mungkin bagi saya yang hidup di toko yang juga kebetulan di pinggir jalan, pemandangan seperti itu adalah hal yang sudah biasa, kalau dihitung hitung mungkin bisa sampai 10 sampai 20 orang yang meminta minta, tapi yang buat saya sebel adalah, kalau ada lelaki (masih sehat, masih usia produktif) minta minta, duh gemes banget saya. bagi saya itu menjatuhkan martabat laki laki, karena dengan begitu akan di cap lemah dan tak berdaya. untuk perkara ngasih atau gak, itu sih kalo ada receh ya kasih, kalo gak ya gak (tapi kebanyakan gak ngasih), he…he…. (maju terus bang Zhal)

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    ha ha ha kalo saya sih ogah ngasih … bukannya pelit tapi biasanya pengemis dan anak2 kecil di lampu merah itu diorganisir oleh para oknum2 tertentu dimana merekalah yang mendapat sebagian besar hasil receh2 tersebut.. kan eneg..

    [Reply]

  14. Disatu sisi saya setuju..disisi lain kurang setuju…..lebih baik kita sama2 berharap pemerintahan yg baru ini bisa lebih mensejahterakan rakyatnya…dengan bgitu permasalahan diatas akan hilang dengan sendirinya….

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    Berharap ke pemerintah boleh2 aja.. tp jgn terlalu dech hehe… mengapa kita tidak coba mulai dari diri kita sendiri dan rekan2 di sekeliling kita.

    [Reply]

  15. bagiku kebanyakan manusia itu miskin (tanpa dilihat dari statusx lho), yaitu miskin hati nurani, makax jd seperti yg bang zal bilang.orang kaya menindas yg miskin, orang miskin mencari sesuap makan dengan cara yg g bener.

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    itu dia yg memprihatinkan…
    saya lihat hanya sebagian kecil yang memang mau merubah nasibnya dengan sungguh2… selebihnya lebih ingin instant dan serba cepat..

    [Reply]

  16. Sebenarnya bukan kebodohon yang jadi alasan
    Tapi mereka sepertinya tidak punya pilihan
    Kalau kita bertanya
    Jawaban klise dari mereka
    “Dari pada saya merampok ?”

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    Pilihan ?
    Banyak kok…
    Misalnya dengan kembali ke kampung halaman dan mengelola ladang di sana?

    [Reply]

  17. Wah postingnya mulai membahas realita sosial neh..hehe..
    Oh ya temen2 blogku sekarang do follow loh jadi tinggalkan komentar kamu ke blogku yah..hehe.

    [Reply]

  18. ini intinya yahh om ?

    Semua kembali pada diri kita masing-masing..

    sambil ngelus perut laperr…. ?

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    awas ntar gembul wkwkwk

    [Reply]

  19. waduh rupanya nangkring disini toh..! ditunggu2 di blog yang lama, eh ktemu juga disini..bener banget bang zal! kadang gelar bodoh dan miskin justru dimanfaatkan lalu disalahgunakan..!!

    [Reply]

  20. Kasihani lah saya bang.. 3 hari gak makan di rumah.., (wkwkwk.. saya kan nge-kost)..

    Kalo ngaku-ngaku bego dan bodoh kayak saya bang. Pura-pura bego padahal bego beneran, wkwkwk :lol:

    *Kaboor sebelum dihajar pakai jurus Kung Fu Panda*

    [Reply]

  21. wah tulisan yang menarik, mau quick reading aja malah jadi saya baca semuanya hehehehe.
    *menghela nafas, soal kemiskinan dan tetek bengeknya emang bikin pusing, dan juga menghadapi urusan perut.. repot dah, semua langsung dilakuin tanpa dipikirkan apa efeknya dikemudian hari.

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    hehe ngaku ya suka fast reading.. hihihi sama sih saya juga kadang fast reading kalao membaca tulisan yg membosankan…

    [Reply]

  22. Ya mas, setuju. Kadang dengan alasan “perut”, mereka sepertinya menghalalkan segala cara. Kalau tidak merugikan orang lain sih nggak masalah, tapi kalo hak orang lain dirampas, yah jadi masalah juga.

    [Reply]

  23. Belajar Internet marketing adalah salah satu cara untuk lepas dari kemiskinan!

    ajari saya ya!

    [Reply]

  24. @Septian
    Saya tidak setuju kalau kita begitu menggantungkan kepada pemerintah (meskipun memang kewajiban pemerintah membantu rakyaknya). Justru ketika saya berinteraksi dengan orang-orang “miskin” (padahal saya juga nggak kaya) masalah utama menurut kacamata saya justru banyak terletak pada rakyat “miskin” itu sendiri.

    Pola pikir yang kaku
    Berdasarkan pengalaman saya mayoritas rakyat “miskin” memiliki pemikiran yang kaku. Misal saja seorang petani begitu bingungnya karena masalah pupuk yang begitu mahal ketika ditawari menggunakan pupuk organik misalnya 99% kemungkinan mereka akan menolak karena mereka takut inovasi justru membuat mereka semakin buruk (walaupun ada kemungkinan itu). Ketakutan mereka untuk melakukan inovasi inilah yang banyak mengkungkung mereka tetap dalam kemiskinan.

    Berdasarkan pengalaman saya juga sebenarnya mereka mempunyai banyak sekali potensi untuk menjadi lebih baik sayangnya potensi ini justru diredupkan oleh pandangan skeptis mereka sendiri.

    Mudah mengeluh dan menyerah akan keadaan
    Kalau anda ngobrol dengan orang-orang miskin pasti anda akan menemukan banyak sekali diantara mereka yang mengeluhkan tentang keadaan mereka akan tetapi dibalik itu justru mereka pasrah.

    “lha gimana lagi mas kita cuma pedagang kaki lima, buat hidup aja pas-pasan”

    “ya kita cuma bisa berharap pemerintah mau memperhatikan kita”

    dan masih banyak lagi. Padahal saya sebenarnya malah iri kepada mereka karena mereka punya banyak “potensi” terutama materi (bukan uang) yang bisa menjadi sarana sedangkan saya justru kekurangan hal tersebut disini.

    so menurut saya “rakyat miskin” lah yang harus mencoba mendobrak paradigma skeptis mereka agar bantuan pemerintahpun bisa menjadi efektif bukan hilang dengan sederhana berkata saya terpaksa menggunakan uang itu untuk makan dll

    [Reply]

    Nias Zalukhu Reply:

    wah wah jadi tambah komplit nih postingan berkat komentar pendapat mas Agung.. thanks mas..

    [Reply]

  25. miskin hati … akhirnya akan mencelakakan orang lain :)

    [Reply]

  26. setuja kang… mending membantu orang yang jelas usahanya daripada mengasihani orang yg sebenarnya mampu tapi bertameng miskin… :)

    [Reply]

  27. Bang zal, kita tukaran link yah..
    Linknya udah saya pasang di blogroll..ditunggu yah..hehe

    [Reply]

  28. benar sekali pemikiranmu itu bang, apalagi dijakarta ini, sakit hati awak terus liat manusia2nya, kondektur busway pun nanti dia, na sombongan….

    [Reply]

  29. nggak tau tu bang zal, mungkin para trainer, para motivator di Indonesia perlu turun tangan untuk memberi motivasi pada mereka yang mengaku miskin…

    [Reply]

  30. suer bang, dulu saya pernah denger obrolan 2 pengemis di depan kampus. anggap saja pengemis A dan B (percakapan asli dengan bahasa jawa)
    pengemis A “Lho pak, katanya mau istirahat beberapa bulan?”
    pengemis B “kemaren pengennya gitu, tapi ternyata tabungan saya belum cukup buat nge-cor (membuat plat beton untuk rumah bertingkat) rumah saya yang di blitar”
    saya cuman ?????????? benging ga tau mau bilang apa… saya aja belum punya rumah, kok pengemis B ini mau bangun rumah bertingkat?? doh….

    [Reply]

  31. emang gitu, kalo udah ngatas namain kemiskinan, biasanya ntar jadi pada minta2.
    sebenernya kemiskinan bukan takdir, tapi salah orang itu sendiri, klo dia mau merubah takdir bisa saja. coba tuh orang2 miskin mau puter otak biar bs dapet penghasilan lebih, nasib mereka pasti berubah.

    [Reply]

Write A Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>