Perseteruan antara Luna Maya dengan pekerja Infotainment yang terjadi minggu ini memang semakin panas. Sebenarnya apa kata-kata yang ditulis Luna Maya yang menyebabkan kasus perseteruan ini terjadi ? Dan mengapa Luna Maya sampai emosi dan mengeluarkan kata-kata kasar tersebut? Kasus yang berawal dari kata-kata Luna Maya di Twitter yang menyamakan para pekerja infotainment dengan pembunuh dan pelacur ini membangkitkan emosi para pekerja infotainment. Pekerja Infotainment ??? Yup.. saya memang tidak menyebut mereka sebagai wartawan infotainment, karena saya melihat mereka memang belum pantas disebut wartawan. Wartawan merupakan sebuah profesi yang mulia, yang mewartakan sebuah berita berdasarkan fakta yang aktual bukan gossip-gossip murahan yang dibuat-buat bahkan cenderung dicari-cari. Meskipun saya suka nonton acara nya hihihihihi….
Meski saya ga sepenuhnya mendukung Pesta Blogger 2009, namun untuk menghormati rekan-rekan dari Blogger Sumut dan atas nama solidaritas blogger, saya pun ikut meramaikan acara Buka Bersama Pesta Blogger di Medan Kamis Malam tadi, meski sempat terjadi MissCommunication yang akhirnya diakui oleh pihak penyelenggara. Dalam acara tersebut, saya langsung mengemukakan uneg-uneg mengenai Pesta Blogger dan mengemukakan bahwa saat ini sangat penting memberikan contoh yang baik kepada blogger-blogger baru mengenai etika ngeblog. Karena pada dasarnya, tanpa sebuah panduan yang benar dan panutan yang tepat saat ini begitu banyak blogger-blogger pemula yang (maap) sama sekali ga tau etika karena dalam pikiran mereka, bahwa mereka bebas ngeposting apa saja di blog mereka. Dalam acara itu Mas Iman Brotoseno sebagai Chairman Pesta Blogger 2009 menyatakan bahwa hal itu telah menjadi agenda Pesta Blogger namun juga merupakan kewajiban sebuah komunitas untuk mengingatkan anggotanya.
Pasti pada tertawa membaca judul di atas, dan saya yakin ada juga yang akan sinis membacanya. Tapi saya berharap semua berpikir positip saja, karena saya hanya mengeluarkan pendapat tentang Kampanye yang lagi booming akhir-akhir ini lewat sebuah kontes. Membuka mata dan hadapi realita, itu merupakan harapan saya bagi seluruh teman-teman dalam menyikapi sesuatu yang sedang terjadi.
Hampir 64 tahun sudah Indonesia merdeka, saya yakin sebagian berpendapat bahwa meski selama itu Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya namun pada kenyataannya masih banyak yang belum merasakan kemerdekaan di berbagai bidang. Saya ga mau membahas deh mengenai ketidakmerdekaan tersebut, namun kali ini saya justru ingin membahas tentang peranan Telkomsel dalam memerdekakan saya dan rakyat Indonesia di bidang komunikasi.
14 tahun yang lalu, tepatnya 26 Mei 1995 Telkomsel hadir menggebrak dunia telekomunikasi di negara kita dengan layanan Telepon Seluler Pasca Bayar Kartu Halo. Saya masih ingat pada saat itu promosi Kartu Halo menghiasi layar televisi dengan iklan yang membuat saya merinding. Gimana ga merinding, melihat iklan yang mengisahkan tentang seorang pekerja pemboran minyak di tengah laut bisa menerima telpon dari anaknya yang di iklan itu bernama Andy kalau ga salah. Secara saat itu, saya masih seorang anak sekolah yang masih benar-benar ndeso soal teknologi pun terkagum-kagum karena berpikir kok bisa yah nelpon tanpa kabel hahaha…. Itulah gebrakan pertama Telkomsel yang harus diakui menjadi tonggak perkembangan dunia seluler di negara kita, meski sebelumnya telah ada layanan AMPS yang tidak begitu berhasil. Setahun kemudian, Telkomsel kembali menggebrak dengan menjadi Operator Seluler pertama di Asia yang mengeluarkan layanan Seluler Pra Bayar lewat produknya yang diberi nama Simpati.
Kasus Prita Mulyasari dengan RS Omni International saat ini masih belum mencapai babak akhir, namun sepertinya opini masyarakat sudah terbentuk dengan rasa simpati dan mendukung Wanita korban Malpraktek ini. Tidak sedikit juga yang memanfaatkan kasus ini, untuk tujuan-tujuan tertentu yang tentu saja untuk kepentingan diri sendiri. Kita tidak bisa menutup diri dengan semua itu, karena harus saya akui kasus Prita Mulyasari ini memang sudah menjadi “komoditi empuk” untuk mempopulerkan diri sendiri.